1:05 Pagi
Hasil insomnia :
Bukan Teka-Teki.
Dia yang selalu mengucapkan selamat pada malam
Yang menyukai hari sesudah Jumat
Adalah sebuah bencana besar
Caranya membuktikan semua telah berlalu rasanya janggal
Karena ada beberapa waktu terasa seperti dia menginjakkan kaki pada masa lalu, melintas waktu dan pernah terlihat - meski ragu
Sekarang ini semuanya bergerak ambigu
Akal ini sudah mati untuk mencari cara
Tuntaskanlah. Giliranmu untuk membuktikan.
Selamat malam.
Kemana saja kau pergi wahai jati diri yang ku miliki kala lugu menyelimuti pikiran
Kemana saja kau keberanian ? Tidurmu yang kelewat pulas membuatku berpikir selamanya akan menjadi pecundang
Jangan lagi pergi. Tetaplah seperti ini.
Jangan berikan aku pondasi untuk berdiri pada dilema
Bertumpu pada esok, esok, esok
Aku tidak ingin meratap pagiku hilang masa mudaku telah pergi
Jangan lagi pergi. Tetaplah seperti ini.
Kemana saja kau keberanian ? Tidurmu yang kelewat pulas membuatku berpikir selamanya akan menjadi pecundang
Jangan lagi pergi. Tetaplah seperti ini.
Jangan berikan aku pondasi untuk berdiri pada dilema
Bertumpu pada esok, esok, esok
Aku tidak ingin meratap pagiku hilang masa mudaku telah pergi
Jangan lagi pergi. Tetaplah seperti ini.
Kami sedang dipuncak, menghadapi badai yang beberapa bulan terakhir tak mau hengkang. Dia hidup menghantui setiap langkah, membuat kami lemah dan lupa bahwa kami mempunyai kehidupan.
Kegelisahan terselip dibalik wajah-wajah cerah terpaksa. Apalagi bapak yang sudah tua, tapi memaksa tubuhnya beroperasi seperti masa muda. Walau setiap warna ditubuhnya mulai luntur, ingatannya dia dengan jiwanya yang lama. Dia dengan sikap keras kepala dan egois yang merupakan khas dirinya.
Tapi dibalik itu dia menyimpan sejuta keajaiban yang membekas.
Bapak adalah buku diary pertama dimana aku mencurahkan semuanya. Walau saat malam dia seperti seorang nahkoda kapal perang, memaksaku mengarungi dunia menanggalkan kemalasan, mendorong supaya diriku menjadi sosok berguna.
Sejak kami berlayar ke berbagai dunia menambah pundi - pundi pengetahuan, batin kami kuat.
Dia menjadi peri pelindung. Bukan hanya untukku tapi untuk semua orang (walau kadang caranya membuat orang jengkel).
Aku tidak pernah percaya intuisi.
Tapi bapak percaya dan mengajarkan itu.
Dia seperti peramal. Terbukti saat meteor pertama jatuh di duniaku. Dia tidak menutupi kenyataan dan memaksa segala perubahan mati-matian atau menyeka air mata dengan kalimat - kalimat yang menusuk hingga ke tulang.
Aku memahami betapa berartinya sebuah kesempatan dari bapak. Saat ada berita bahwa ada solusi dari kehancuran duniaku bapak mendorongku untuk melakukannya.
Aku bertumbuh dengan intuisi walaupun intuisi lain mulai menghantui. Jika sebelumnya aku dihibur, maka aku membalas budi kembali menghibur. Datang tersenyum mengucapkan terima kasih.
Ada banyak kerikil yang ku tabur selama perjalanan ini. Terutama untuk bapak. Apa aku menyesal ? Setiap orang akan merasakannya saat mengenang masa lalu.
Entah berapa kali aku menatap ke langit sejak tanganku menyentuh telapak kakinya berusaha menghilangkan sakit, menghilangkan dingin yang mendadak menyelimuti dirinya.
Sebelum masuk ruang operasi siang tadi , bapak menyempatkan diri menelepon.
Kami masih satu kota, jarak berpisah hanya beberapa km saja. Tapi dia bertanya seakan kami lama tak berjumpa , seakan dia jauh.
Menanyakan kabar apakah kami semua sehat ? Apakah aku sehat?
Dia mengucapkan terima kasih karena aku sehat. "Terima kasih ya Boru sudah sehat" kalimat paling menyentuh , paling berarti dan untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku diberarti didunia ini. Kami masih sempat bercanda dan aku tau bapak tersenyum diseberang sana.
Dan selepas itu, sisanya hanya kabar tak enak yang mampir. Mamak bahkan berusaha menyembunyikannya.
Tapi sayang getar saat dia bicara , membuatku tau hal - hal buruk ditopang ya.
Kegelisahan terselip dibalik wajah-wajah cerah terpaksa. Apalagi bapak yang sudah tua, tapi memaksa tubuhnya beroperasi seperti masa muda. Walau setiap warna ditubuhnya mulai luntur, ingatannya dia dengan jiwanya yang lama. Dia dengan sikap keras kepala dan egois yang merupakan khas dirinya.
Tapi dibalik itu dia menyimpan sejuta keajaiban yang membekas.
Bapak adalah buku diary pertama dimana aku mencurahkan semuanya. Walau saat malam dia seperti seorang nahkoda kapal perang, memaksaku mengarungi dunia menanggalkan kemalasan, mendorong supaya diriku menjadi sosok berguna.
Sejak kami berlayar ke berbagai dunia menambah pundi - pundi pengetahuan, batin kami kuat.
Dia menjadi peri pelindung. Bukan hanya untukku tapi untuk semua orang (walau kadang caranya membuat orang jengkel).
Aku tidak pernah percaya intuisi.
Tapi bapak percaya dan mengajarkan itu.
Dia seperti peramal. Terbukti saat meteor pertama jatuh di duniaku. Dia tidak menutupi kenyataan dan memaksa segala perubahan mati-matian atau menyeka air mata dengan kalimat - kalimat yang menusuk hingga ke tulang.
Aku memahami betapa berartinya sebuah kesempatan dari bapak. Saat ada berita bahwa ada solusi dari kehancuran duniaku bapak mendorongku untuk melakukannya.
Aku bertumbuh dengan intuisi walaupun intuisi lain mulai menghantui. Jika sebelumnya aku dihibur, maka aku membalas budi kembali menghibur. Datang tersenyum mengucapkan terima kasih.
Ada banyak kerikil yang ku tabur selama perjalanan ini. Terutama untuk bapak. Apa aku menyesal ? Setiap orang akan merasakannya saat mengenang masa lalu.
Entah berapa kali aku menatap ke langit sejak tanganku menyentuh telapak kakinya berusaha menghilangkan sakit, menghilangkan dingin yang mendadak menyelimuti dirinya.
Sebelum masuk ruang operasi siang tadi , bapak menyempatkan diri menelepon.
Kami masih satu kota, jarak berpisah hanya beberapa km saja. Tapi dia bertanya seakan kami lama tak berjumpa , seakan dia jauh.
Menanyakan kabar apakah kami semua sehat ? Apakah aku sehat?
Dia mengucapkan terima kasih karena aku sehat. "Terima kasih ya Boru sudah sehat" kalimat paling menyentuh , paling berarti dan untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku diberarti didunia ini. Kami masih sempat bercanda dan aku tau bapak tersenyum diseberang sana.
Dan selepas itu, sisanya hanya kabar tak enak yang mampir. Mamak bahkan berusaha menyembunyikannya.
Tapi sayang getar saat dia bicara , membuatku tau hal - hal buruk ditopang ya.
Apa kau benar-benar disana ?
Diantara langit biru, diantara sekumpulan bintang kelap kelip yang terlihat indah. Seperti dirimu, yang selalu tampil menyolok lewat kutek merah seakan tak pernah lekang dari barisan kukumu.
2 tahun yang lalu kau berlari dari kejauhan, menyambut kesedihan. Merengkuh yang kehilangan, untuk memberikan energi mu kepada mereka yang membutuhkan.
Berapa puluh tahun kau melakukan itu ? Menjadi seorang pelindung, sementara dunia semakin giat memisahkanmu dari kebahagiaan yang seharusnya kau peroleh. Aku tau kisahmu walau tak banyak bou. Ku dengar samar - samar dari curhatmu dengan bapak. Tapi kau selalu bisa menghadapinya.
Dan ternyata ini pemberhentian terakhirmu.
di saat hari kasih sayang.
Kenapa ?
Diantara langit biru, diantara sekumpulan bintang kelap kelip yang terlihat indah. Seperti dirimu, yang selalu tampil menyolok lewat kutek merah seakan tak pernah lekang dari barisan kukumu.
2 tahun yang lalu kau berlari dari kejauhan, menyambut kesedihan. Merengkuh yang kehilangan, untuk memberikan energi mu kepada mereka yang membutuhkan.
Berapa puluh tahun kau melakukan itu ? Menjadi seorang pelindung, sementara dunia semakin giat memisahkanmu dari kebahagiaan yang seharusnya kau peroleh. Aku tau kisahmu walau tak banyak bou. Ku dengar samar - samar dari curhatmu dengan bapak. Tapi kau selalu bisa menghadapinya.
Dan ternyata ini pemberhentian terakhirmu.
di saat hari kasih sayang.
Kenapa ?
"SIHIR SANG HUJAN"
Musik
Ruth Clara
Lirik
Gadis Kertas
Sampai nanti ku ucapkan
Pada semua kenangan
Suatu hari nanti kita kan bersua lagi
Sampai nanti ku ucapkan
Suatu hari aku akan kembali
Gunakanlah Impian sebagai kompas penuntun langkah
Jangan biarkan hari demi hari tak miliki kisah
Sesekali rindukanlah patah hati, kegagalan
Untuk pelajaran
Sampai nanti dan Terima kasih.
Terima kasih ku ucapkan
Tuk sang pembuat tawa dan pembuat duka
Terima kasih ku ucapkan
Untuk dunia yang gila
Beserta penghuninya
Sampai jumpa lagi.
Apa kegiatanmu saat
ini ?
Melalui waktu. Melanjutkan satu impian yang sempat tertunda.
Melewati waktu,menikmatinya sekaligus meratapinya. Entah kenapa semakin hari
semuanya semakin terasa sia-sia.
Sia – sia ?
Aku merasa setiap yang ku lakukan adalah sia-sia. Apalagi akhir-akhir
ini semua berlalu terasa cepat, sementara seluruh tubuhku bergerak terasa lambat.
Aku banyak melewatkan hal-hal berharga.
Beritahu , apa saja hal-hal
berharga menurutmu.
Aku rindu menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Menyalip
kendaraan diantara padatnya lalu lintas, tertawa setiap menit. Menerka ekpresi
orang asing, mengawati sekeliling sehingga aku punya inspirasi.
Bagaimana keadaan
sekelilingmu sehari-hari saat ini ?
Dipenuhi orang-orang yang menarik, kreatif, tangguh. Mereka
benar-benar luarbiasa. Mungkin aku terbiasa menghabiskan waktu lama di ruang lingkup
yang besar, sehingga aku merasa seperti ini sekarang. Seperti terhimpit, merasa
sesak memasuki ruang lingkupku yang baru.
Apa kau merasa
tertekan ?
Aku tertekan karena diriku sendiri. Tadinya aku merasa sedih
karena beberapa orang menganggap aku pemalas yang tak tau diri. Setelah aku
menguatkan diri, mungkin tekadku terpatri dengan jelas, semakin hari banyak
yang mendukungku.
Itu bagus.
Tidak itu tidak bagus. Semakin banyak dukungan, membuat
banyak orang berekspetasi dan memandangku seperti ‘Dia benar-benar luarbiasa,
dia sempurna’. Aku benci pujian.
Jadi seharusnya
bagaimana ?
Satu fakta baru aku sadari bahwa aku tidak hanya labil
secara emosi tetapi sifatku juga. Aku ingin semuanya terjadi dengan tepat.
Itu mustahil.
Ya. Aku tau. Tidak semua orang ditakdirkan untuk peka, lihai
membaca ekspresi dan suasana.
Jadi , cara
mengatasinya ?
Senyum, atau pura-pura tidak mendengar. Entah sudah berapa
juta kali aku mengucapkan kata ‘Bodo amat’ , ‘Yaudah’, atau ‘Terserah’. Ketidakpedulian
dan pasrah diri.
Itu dua kombinasi yang
mematikan.
Benar.





